| Gedung Museum Geologi tahun 1929 dari arah Jalan Citarum (Foto: Tropenmuseum) |
Museum Geologi berada di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Museum ini telah berdiri sejak masa penjajahan Belanda, baik gedungnya maupun institusinya. Museum Geologi sebagai institusi pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium (Laboratorium Geologi) dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929. Pembangunan gedung Museum Geologi dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kegiatan penyelidikan geologi di Hindia Belanda yang sudah dimulai sejak tahun 1850-an di bawah Dienst van het Mijnwezen. Sejalan dengan semakin meningkatnya kegiatan penyelidikan dan kebutuhan pasar dunia akan barang tambang maka pada tahun 1922 pemerintah kolonial Hindia Belanda mengubah nama Dienst van het Mijnwezen menjadi Dienst van den Mijnbouw. Lembaga yang dahulu hanya melaksanakan eksplorasi sekarang sekaligus melakukan eksploitasi barang tambang. Kegiatan penyelidikan yang terus meningkat pada masa itu akhirnya mendorong pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk membangun tempat penyimpanan khusus untuk berbagai koleksi geologi (batuan, mineral, fosil, termasuk laporan dan peta) yang diperoleh dari penyelidikan tersebut. Maka pada tahun 1928 dibangunlah gedung laboratorium yang juga berfungsi sebagai museum di Jalan Rembrandt di Bandung (sekarang Jl. Diponegoro No. 57). Pembangunan gedung selesai pada awal tahun 1929 dan peresmiannya dilakukan bersamaan dengan pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan se-Pasifik IV.
Pada masa pendudukan Jepang gedung Museum Geologi tetap digunakan sebagai museum namun lembaga yang menaunginya diubah menjadi Chisitsu Chosacho. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan Hindia Belanda memerdekakan diri, pemuda Indonesia merebut gedung Chisitsu Chosacho dan mengambil alihnya lalu mengubah namanya menjadi Pusat Djawatan Tambang dan Geologi. Setelah itu terjadi beberapa kali pergantian nama hingga akhirnya saat ini Museum Geologi berada di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Renovasi Museum Geologi
Tata pameran Museum Geologi baru mengalami perubahan ketika dilakukan renovasi kecil pada tahun 1980-an. Renovasi besar dilakukan pada tahun 1998 dengan bantuan dari pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Program kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Jepang ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1993. Rencana pengembangan Museum Geologi dalam kerja sama ini meliputi renovasi gedung, pengembangan sistem dokumentasi koleksi, pengembangan sistem peragaan, pengembangan sistem edukasi, dan pengembangan progam penelitian koleksi. Pekerjaan fisik untuk merenovasi gedung dan mengembangkan sistem peragaan mengharuskan Museum Geologi ditutup selama satu tahun dan pekerjaan ini selesai pada pertengahan Agustus tahun 2000. Pada 22 Agustus 2000 Museum Geologi dibuka kembali untuk umum setelah diresmikan kembali pembukaannya oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Soesilo Bambang Yudhoyono.
Sejarah lengkap Museum Geologi sebagai lembaga dapat dibaca dalam buku Menguak Sejarah Kelembagaan Geologi di Indonesia: dari kantor pencari tambang hingga Pusat Survei Geologi yang diterbitkan oleh Badan Geologi pada tahun 2006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar